Teladan dari Ketua PCNU Kota Malang, Gus Is Serahkan Bisyarah Ceramah 5 Tahun untuk NU

MALANG, BANGSAONLINE.com – Bermacam cara warga NU dan kiai NU berhidmat di jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU). Ada yang menyumbang dana untuk kegiatan atau aktivitas NU. Namun ada juga yang secara suka rela menanggung pembayaran listrik dan gaji karyawan tiap bulan. Bahkan juga ada yang menghibahkan tanah dan rumah untuk kantor NU.

Semua itu mereka lakukan, selain untuk tabarrukan kepada para muassis (pendiri) NU – terutama terhadap Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari – juga untuk menghidupkan syiar Islam lewat NU. Jami’yah atau organisasi NU – dengan demikian – menjadi ladang pengabdian, bukan lahan mencari keuntungan pribadi dan keluarga.

Ini pula yang dilakukan Dr KH Israqunnajah, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Malang. Gus Is, panggilan akrab kiai santun itu, tak pernah ambil untung dari jabatannya sebagai ketua PCNU. Gus Is bahkan tak pernah mau menggunakan bisyarah hasil ceramah untuk kepentingan pribadi. Ia menyadari ia diundang ceramah ke mana-mana karena menjabat ketua PCNU.

Apakah ia menolak bisyarah ceramah? O tidak. Setiap dikasih amplop seusai ceramah ia terima. Tapi tak pernah ia buka, apalagi menghitung. Semua amplop berisi uang itu ia taruh di sebuah tas tersendiri, tidak dipakai untuk kepentingan pribadi atau keluarga. Sampai 5 tahun.

Nah, suatu saat PCNU Kota Malang mau menggelar Konfercab dan peringatan Hari Santri Nasional. Gus Is iseng menanyakan ketersediaan dana kepada panitia. Karena Gus Is juga ingin ada cendera mata kepada para pengurus PCNU yang akan segera berakhir.

"Mas, masak tidak ada kenang-kenangan untuk peserta konfercab dari kepengurusan kita. Apa gitu mas?" tanya Gus Is kepada panitia seperti ditulis Khoirul Anwar, Ketua OC Konfercab NU Kota Malang di portal PWNU Jatim.

"Sebenarnya ya sangat ingin, Gus. Tapi ya itu, untuk keperluan hari H, ini masih ikhtiar),” jawab panitia.

Tampaknya panitia masih kekurangan dana. Biasanya pengurus PCNU Kota Malang patungan untuk menambal kekurangan.

“Sepertinya kita harus patungan lagi, Gus,” kata panitia.

Tapi Gus Is langsung menyela.

“Insyaallah tidak,” ujar putra KH Masduki Mahfudz, mantan Rais Syuriah PWNU Jawa Timur yang juga pendiri Pesantren Nurul Huda Mergosono Malang.

Saat itulah Gus Is mambuka tas. "Gini Mas. Ini Insyallah ada uang. Tapi berapa saya tidak tahu. Banyak. Tidak pernah saya buka, apalagi hitung)," ujar Gus kemudian.

“Ini uang bisyarah selama menjadi ketua (PCNU). Ya ada dari… (Gus Is menyebut warga NU hingga panitia kondangan). Merasa bukan hak saya karena mengundang atas nama ketua PCNU. Ya amplop ini saya simpan di tas. Jadi tidak pernah saya buka, apalagi menghitung jumlahnya,” tambah dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Kota Malang itu.

Karuan saja semua panitia terharu. Tas itu berisi penuh amplop.

“Banyak sekali. Tidak tertata rapi amplop-amplop itu. Khas diletakkan sekenanya. Lantas satu per satu kami membuka amplop-amplop itu. Menghitung duit di dalamnya. Ada yg bagian mencatat. Lama sekali ngitung dan membuka amplop-amplop itu. Karena ada yang puluhan ribu, ratusan ribu, hingga jutaan. Masyaallah,” tulis Khoirul Anwar.

"Berapa Mas totalnya?" tanya Gus Is kemudian.

"Total 103 juta Gus," jawab Khoirul Anwar girang.

Sisa uang itu selain dipakai untuk beli karpet lantai tiga kantor PCNU Kota Malang juga untuk membeli cindera mata berupa tas cangklong panitia dan seluruh pengurus PCNU, Banom, Lambaga dan tentu juga peserta Konfercab yang jumlahnya sekitar 650 orang.

"Mas, jangan bilang ke siapa pun ya asal uang ini. Biar tidak menjadi fitnah," pesan Gus Is.

Tapi ternyata informasi itu tak bisa dibendung.

Gus Is yang juga menjabat Wakil Rektor IV UIN Maulana Malik Ibrahim Malang itu memang sangat iffah. Ia selalu mengendalikan diri untuk menjaga kehormatan dan moral atau semua hal yang dilarang atau merendahkan muruah atau marwah. Karena itu ia tidak pernah menggunakan fasilitas negara untuk urusan di luar fungsinya.

“Bahkan dalam sehari-harinya memakai mobil Honda Freed tua. Yang itu pun masih belum lunas cicilannya. Dengan segala kesibukannya juga masih ngurus NU, MUI, kampus, dua pondok pesantrennya (Nurul Huda Mergosono dan Joyosuko),” tulis Khoirul Anwar lagi.

Gus Is memang pemimpin NU yang selalu tampil bersahaya dan familiar. Tampaknya pemimpin model inilah yang dibutuhkan warga NU di tengah kemelut PBNU yang terus konflik tak berkesudahan seperti sekarang.